Tampilkan postingan dengan label CATATAN TENTANG WIDYAISWARA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CATATAN TENTANG WIDYAISWARA. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Desember 2012

TIPS/ CARA MENGUSIR RASA MALAS

A. Pendahuluan 

Setiap kita berpotensi memilikirasa malas. Entah rasa itu timbulnya kadang - kadang, atau bahkan sering. Meski demikian, semua kita sepakat bahwa kita tidak ingin memiliki rasa itu, karena akibat yang ditimbulkannya sangatlah buruk. 

Nah apakah rasa malas itu suatu penyakit ?, dan bagaimanakah sebenarnya rasa malas ini timbul ?, serta bagaimana cara mengusir atau mengatasinya ?, berikut ini akan menulisnya dari berbagai sumber, dengan harapan dapat diambil manfaatnya oleh kita semua. Amien.

B. Pembahasan. 

1. Apakah Rasa Malas Itu Suatu Penyakit?


Yaa, menurut hasil penelitian, kebiasaan malas merupakan penyakit mental yang timbul karena kita takut menghadapi konsekuensi masa depan. Yang dimaksud dengan masa depan ini bukan hanya satu atau dua tahun ke depan tetapi satu atau dua menit dari sekarang.

Contohnya saja ketika kita malas dari bangun tidur,  maka dalam hati kita akan berkata : “Satu menit lagi aaah...saya akan bangun”, tetapi kenyataannya barangkali kita akan berlama-lama di tempat tidur sampai akhirnya memang waktunya tiba untuk siap-siap pergi ke sekolah/ kuliah/kantor/sawah/bekerja.

2. Apa Penyebab Timbulnya Rasa Malas Itu?

Kebiasaan malas timbul karena kita cenderung mengaitkan masa depan dengan persepsi negatif. Kita malas bertindak karena bayangan negatif tentang hal-hal yang memberatkan di depan. Kita menunda-nunda pekerjaan karena cenderung membayangkan setumpuk tugas yang harus dilakukan/ diselesaikan. Belum lagi bila kita berhubungan dengan orang-orang yang tidak kita sukai, misalnya.


3. Bagaimana Akibat Yang Ditimbulkan Rasa Malas Itu?
  • Menunda-nunda pekerjaan pada akhirnya akan mengundang stress, karena mau tidak mau suatu saat kita harus mengerjakan/ menyelasaikannya. Di waktu yang sama kita juga mungkin punya banyak pekerjaan lain, yang juga harus segera kita selesaikan. 
  • Dalam beberapa hal, kita mungkin juga akan kehilangan momen untuk berkembang ketika kita mengatakan “tidak” terhadap sebuah kesempatan.
4. Bagaimana Cara Mengatasi/ Mengusir Rasa Malas Itu? 

Sedikitnya ada tiga tips atau cara untuk mengusir rasa malas yang setiap saat bisa timbul pada diri kita. Ketiga cara itu adalah sebagai berikut:


a. Ganti “Kapan Selesainya” dengan “Saya Mulai Sekarang”

Apabila kita dihadapkan pada satu tugas besar atau pekerjaan, maka kita sebaiknya JANGAN berpikir mengenai rumitnya tugas atau pekerjaan tersebut dan membayangkan kapan bisa diselesaikan. Sebaliknya, fokuslah pada pikiran positif dengan membagi tugas atau pekerjaan besar tersebut menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan menyelesaikannya satu demi satu.

Katakan setiap kali kita bekerja: “Saya mulai sekarang”.
Cara atau tips ini akan menghindarkan Kita dari perasaan terbebani, stress, dan kesulitan. Kita membuat sederhana tugas di depan kita dengan bertindak positif. Fokus kita hanya pada satu hal pada satu waktu, bukan banyak hal pada saat yang sama.

b. Ganti “Saya Harus” dengan “Saya Ingin”

Berpikir bahwa kita harus mengerjakan sesuatu secara otomatis akan mengundang perasaan terbebani dan kita menjadi malas mengerjakannya. Kita akan mencari seribu alasan untuk menghindari tugas atau pekerjaan tersebut.

Satu tips yang bisa kita gunakan adalah mengganti “saya harus mengerjakannya” dengan “saya ingin mengerjakannya”. Cara berpikir seperti ini akan menghilangkan mental blok dengan menerima bahwa kita tidak harus melakukan pekerjaan yang kita tidak mau.

Kita mau mengerjakan tugas/ pekerjaan karena memang kita ingin mengerjakannya, bukan karena paksaan pihak lain. Kita selalu punya pilihan dalam kehidupan ini. Tentunya pilihan kita sebaiknya dibuat dengan sadar dan tidak merugikan orang lain. Intinya adalah tidak ada seorang pun di dunia ini yang memaksa kita melakukan apa saja yang kita tidak mau melakukannya.


c. Sadari Bahwa "Kita Bukan Manusia Sempurna"

Berpikir bahwa kita harus menyelesaikan pekerjaan sesempurna mungkin akan membawa kita dalam kondisi mental tertekan. Akibatnya kita mungkin akan malas memulainya. Kita harus bisa menerima bahwa kita pun bisa berbuat salah dan tidak semua harus sempurna.

Dalam konteks tugas/ pekerjaan, kita punya kesempatan untuk melakukan perbaikan berulang kali. Kita selalu bisa melakukan negosiasi dengan pihak pemberi tugas/ pekerjaan, untuk meminta waktu tambahan dengan alasan yang masuk akal. Mulailah pekerjaan dari hal yang kecil dan sederhana, kemudian tingkatkan seiring dengan waktu.


C. Kesimpulan
  1. Kemalasan merupakan sesuatu yang normal dalam hidup kita. Karena dia normal maka dia pun bisa diatasi. 
  2. Tiga tips/ cara di atas bisa menjadi awal untuk berpikir dan bertindak berbeda dari biasanya sehingga kita tidak menyia-nyiakan kesempatan yang datang hanya karena kita malas mengerjakannya.
Sumber: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=9376591

"BENCANA WAKTU" (Renungan Akhir Tahun 2012)

A. PENDAHULUAN

Sebagaimana kita maklum, bahwa waktu bagi setiap manusia adalah sangat penting. Mengingat pentingnya waktu ini maka Alloh SWT menggunakan waktu dan waktu tertentu untuk bersumpah dan untuk memberi nama Surah dalam Alquran. Misalnya “Wal-‘asyr = Demi masa (waktu0”, “Wadhuha = Demi waktu dhuha”.

Meski semua mengakui bahwa waktu itu penting, namun jika tidak hati – hati atau tidak benar cara memanfaatkannya, maka bisa menjadi bencana. Hal ini sesuai dengan sebuah pepatah Arab yang sangat terkenal yang menyatakan bahwa: “Waktu itu laksana pedang” yang bila tidak hati – hati memanfaatkannya, maka ia akan melukai orang yang menggunakannya, atau bahkan ia akan memenggal siapapun yang menyia-nyiakannya.

Nah untuk melihat bagaimana waktu itu bisa menjadi bencana, dalam tulisan ini akan diuraikan tentang bagaimana kebanyakan kita memanfaatkan waktu kita seharin- hari maupun waktu selama hidup kita.

Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengajak kita semua untuk menghitung dengan cermat untuk apa saja dan berapa lama waktu dari masing – masing kgiatan/ aktivitas rutin kita sehari – hari, dalam sehari, dalam sebulan, dalam setahun dan selama hidup kita.

Hal ini sesuai dengan anjuran Khalifah Umar ra. 1400 th silam, melalui nasehatnya: “Hitunglah…sebelum kamu sekalian dihitung/ dihisab (Oleh Alloh SWT di akherat kelak)” .

  • Dengan demikian kita berharap akan semakin menyadari dan berhati – hati dalam memanfaatkan waktu hidup kita yang cuma sebentar di dunia ini. 
  • Di samping itu kita juga berharap agar waktu tidak kita sia – siakan, karena menyia – nyiakan waktu hidup kita, akan bisa menjadi bencana bagi kita.

B. PEMBAHASAN.

1.   Perhitungan Umur dan Waktu  diperhitungkannya Amal dan Dosa.

Sebelum kita menghitung secara matematis tentang umur dan waktu aktivitas kita sehari – hari, ada baiknya perlu kita ketahui bahwa:
  • 1 hari = 24 Jam, 1 jam = 60 menit dan 1 menit = 60 detik. 
  • Dengan demikian 1 thn = 12 Bulan = 52 Minggu = 365 Hari = 8.760 Jam = 525.600 Menit = 31.636. 000 Detik
  • Anggaplah manusia meninggal dunia antara usia 60 – 70 tahun. Atau kita anggap manusia rata – rata meninggal pada usia =  ± 65 th. 
  • Dari umur 65 thn tsb pada masa anak-anak belum diperhitungkan amal dan dosa. Baru mulai diperhitungkan setelah manusia baligh (start bagi seseorang diperhitungkan amal baik atau buruknya selama hidup di dunia). 
  • Usia baligh tersebut bagi: (a) Laki-laki = ± 15 tahun dan bagi Wanita = ± 12 tahun.
Dengan demikian Usia yang tersisa untuk kita beribadah kepada-Nya kita pukul rata dengan rumus: Mati baligh = sisa usia = 65 – 15 = 50 tahun.

Nah sekarang pertanyaanya:
(a) Sungguhkah 50 tahun usia kita benar – benar untuk BERIBADAH ?,
(b) Bukankah kewajiban kita hidup di dunia ini hanya untuk beribadah kepada Alloh SWT?,
(c) Untuk apa saja waktu hidup kita yang 50 tahun itu?

2.   Perhitungan Waktu Untuk Aktivitas Manusia Sehari – hari dan Untuk Ibadah Secara  
      Matemaris. 
Sebelum kita hitung penggunaan waktu yang 50 tahun tersebut untuk apa saja dan berapa lama, perlu kita buat asumsi – asumsi sebagai berikut::
a. Bahwa 50 tahun = 50 × 365 = 18.250 hari = 18.250 × 24.= 458.000 jam.
b. Rata – rata kegiatan harian kita antara lain:
(1) Tidur =  ± 8 jam/hari,
(2) Bekerja & Lembur =  ± 8 jam/hari dan
(3) Kegiatan Santai/ Relaksasi =  ± 4 jam/hari.

Nah selanjutnya mari kita hitung berapa lama dari masing – masing kegiatan itu kita lakukan selama 50 tahun, yang semestinya untuk kita beribadah tersebut?

1) Berapa lama waktu untuk tidur?
  • Bila diasumsikan kita tidur sehari = 8 jam, berarti dalam 50 tahun (18.250 hari) kita tidur selama = 18.250 × 8 = 146.000 jam = 146.000 : 8.760  = 16 tahun, 7 bulan atau di bulatkan = 17 tahun.
  • Alangkah sayangnya waktu kita yang 50 tahun itu, selama 17 tahun hanya kita gunakan untuk tidur. 
  • Padahal kita nanti akan tertidur dari dunia ini untuk selamanya (ketika kita mati nanti). 
  • Belum lagi bagi kita yang memiliki penyakit ”TuMor” = Tukang MoloR, mungkin kita akan tidur selama 12 jam/ hari = 18.250 × 12 = 219.000 jam = 219.000  : 8.760  = 24,98 tahun atau di bulatkan = 25 tahun.

2) Berapa lama waktu untuk aktivitas kerja di siang hari & lembur?

Yang termasuk aktivitas/ kerja di siang hari dan lembur ini bagi setiap orang tidaklah sama, misalnya:
  • ada yang bekerja di kantor/ di perusahaan bahkan sampai lembur, 
  • ada yang bekerja di sawah,  
  • ada yang belajar atau mengajar,
  • ada yang sekolah atau kuliah, 
  • ada yang makan sambil jalan -  jalan, 
  • ada pula yang aksi sambil korupsi 
  • dan masih banyak lagi aktivitas lainnya, di mana satu sama lainnya tidak bisa disamaratakan.
Bila kita asumsikan bahwa lama waktu kita beraktivitas/ kerja di siang hari dan termasuk lembur = + 12 Jam/ hari, maka dalam 50 tahun waktu yang habis dipakai aktivitas/ kerja di siang hari dan lembur = 18.250 x12 = 219.000 jam = 219.000 : 8.760 = 25 tahun (pas).

3)   Berapa lama waktu untuk aktivitas santai atau rilexsasi alias nganggur?

Termasuk dalam kegiatan santai/ rileksasi alias nganggur ini antara lain waktu yang kita gunakan untuk:
  • nonton TV, Fb-an, rekreasi, jalan-jalan, bersenda gurau dengan keluarga/ teman, 
  • ada yang belajar mati-matian bikin kerpekan/ sontekan untuk ulangan/tes/ujian,
  •  bahkan ada juga yang digunakan untuk merenung dan menghayal atau dibuai angan – angan, sehingga dzikirnya: “jikalau…maka ....., jikalau…. maka ....., jikalau…… maka .....”
Bila kita asumsikan bahwa waktu kita untuk santai atau rileksasi alias nganggur = ± 4 jam/ hari, maka dalam 50 tahun waktu yang dipakai santai/ rileksasi/nganggur  = 18.250 x 4 = 73.000 jam = 73.000 : 8.760 = 8,33 tahun atau dibulatkan = 8 tahun.

4)   Berapa lama waktu untuk beribadah?

Dari perhitungan di atas, selanjutnya mari kita hitung berapa lama waktu kita untuk beribadah kepada Alloh (Tuhan Yang Maha Kuasa)?.

Untuk jelasnya dari perhitungan di atas secara ringkas dapat kita kalkulasikan dengan asumsi – asumsi sebagai berikut:
a)   Umur rata – rata manusia hidup di dunia                                 =    ± 65 tahun
b)   Masa anak – anak (belum dihitung amal dan dosa)                 =    ± 15 tahun  
c)   Lama waktu hidup & diperhitungkan amal & dosa                 =    ± 50 tahun   (65 – 15)
d)   Waktu untuk tidur                                                                    =    ± 17 tahun
e)   Waktu untuk bekerja di siang hari & lembur                           =    ± 25 tahun
f)    Waktu untuk santai atau rileksasi                                            =    ±   8 tahun  
g)   Jumlah waktu untuk Tidur + Kerja & lembur + Nganggur     =    ± 50 tahun   (17 + 25 + 8)
h)   Waktu untuk beribadah kepada Alloh SWT (Tuhan)              =    ±   0 tahun   (50 – 50)

Ternyata bedasarkan perhitungan secara matematis di atas, selama 50 tahun sisa waktu untuk ibadah = 50 – 50 = 0 tahun. 
Dengan kata lain waktu kita yang 50 tahun itu kita habiskan hanya untuk: ”Tidur, Kerja & lembur serta Santau/ Nganggur”.

Lantas kapan ibadahnya?
  • Bukankah manusia itu diciptakan hanya untuk beribadah kepada Alloh SWT? 
  • Sebagaimana Alloh berfirman dalam Alquran: ”Tidak Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada – Ku”. 
  • Atau sebagaimana firman Alloh dalam Alquran Surah Al-Asyr ayat 1 – 5: ”(1)  Demi masa. (2)  Sesungguhnya manusia itu benar – benar dalam kerugian,(3) Kecuali orang – orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.

Berdasarkan firman Alloh di atas, semestinya agar kita tidak merugi, maka waktu kita sehari – hari hendaklah kita manfaatkan untuk kegiatan – kegiatan sebagai berikut:
  • Melakukan kegiatan – kegiatan yang dapat meningkatkan keimanan. Termasuk dalam kegiatan ini antara lain: melakukan ibadah khusus seperti shalat wajib & sunnah, puasa, hajji, mengaji, mendengarkan ceramah/ nasehat agama secara langsung atau melalui TV, Radio, Casete, CD, membaca & mengkaji Alquran, Membaca buku – buku agama dan lain – lain.
  • Melakukan kegiatan – kegiatan amal shalih/ kebajikan. Termasuk dalam kegiatan ini antara lain: infaq/ sedekah, membantu orang yang susah, berbakti kepada orang tua, silaturahiem, gotong royong, berbakti kepada suami dan lain – lain.
  • Amar Ma’ruf Nahi Munkar (saling nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran). Termasuk dalam kegiatan ini antara lain: mendakwahkan Islam melalui ceramah, khutbah, menulis buku tentang Islam, menasehati isteri/ suami dan anak – anak dan lain – lain.
  • Saling menasehati dalam kesabaran. Termasuk dalam kegiatan ini antara lain: sabar jika tertimpa musibah, bila diolok/ dikucilkan karena mengamalkan, mendakwahkan, memperjuangkan Islam, menasehati orang lain agar bersabar ketika ditimpa musibah dan lain – lain.
Pertanyaannya adalah:
  • kapan dan berapa lama waktu untuk kegiatan – kegiatan itu masing – masing? 
  • Sedangkan sebagaimana disebutkan di atas bahwa ternyata selama 50 tahun sisa waktu untuk ibadah = 50 – 50 = 0 tahun. 
  • Dengan kata lain waktu kita yang 50 tahun itu kita habiskan hanya untuk: ”Tidur, Kerja & lembur serta Santau/ Nganggur” ?.

3.   Sanggahan/ Bantahan dan Jawabannya
  • Dari uraian di atas, mungkin kita bisa menyanggah dengan beberapa sanggahan/ bantahan.
  • Tetapi setiap sanggahan/ bantahan bisa jadi akan ada jawabannya. 
  • Nah berikut ini saya tuliskan beberapa sanggahan/ bantahan dan jawaban yang dapat terjadi dalam kehidupan kita sehari – hari.

a.  Sanggahan/ Bantahan:
  • Yang dimaksud dengan ”ibadah” itu kan  ”Tunduk dan patuh”. Jadi kegiatan apapun saja yang kita lakukan, asalkan diniatkan dengan ikhlash semata – mata mencari ridlo Alloh dan tidak melanggar larangan – larangan Alloh itu semuanya adalah termasuk ibadah. 
  • Sehingga: (1) Kita sholat, puasa, zakat, hajji, berceramah, membaca khutbah, mengajar ngaji dll adalah ibadah, (2) Kita belajar/ mencari ilmu (sekolah atau kuliah) adalah ibadah,. (3) Kita bekerja mencari nafkah itu ibadah, (4) Kita menolong orang yang susah adalah ibadah, (5) Kita kerja bhakti di kampung adalah ibadah, (6) Kita melakukan hubungan intim dengan suami/ isteri yang syah adalah ibadah dan sekali lagi, kegiatan apapun saja yang kita lakukan, asalkan diniatkan dengan ikhlash semata – mata mencari ridlo Alloh dan tidak melanggar larangan – larangan Alloh itu semuanya adalah termasuk ibadah. 
  • Dengan demikian tidaklah benar mana kala selama kita hidup 50 tahun itu dikatakan belum melakukan ibadah sama sekali, atau waktu kita yang 50 tahun itu kita habiskan hanya untuk: ”Tidur, Kerja & lembur serta Santai/ Nganggur”. 
  • Dengan kata lain aktivitas hidup kita di dunia ini tidak bisa dihitung dengan tepat secara matematis seperti di atas, terutama untuk menghitung berapa lama waktu kita untuk beribadah. Karena kegiatan – kegiatan atau urusan keduniaan yang nampaknya bukan kegiatan ibadah bisa menjadi kegiatan ibadah, mana kala diniatkan dengan ikhlash semata – mata mencari ridlo Alloh dan tidak melanggar larangan – larangan Alloh sebagaimana sanggahan di atas.

b. Jawaban:
  • Yaa....memang benar bahwa segala kegiatan kita bisa bernilai ibadah mana kala diniatkan dengan ikhlash semata – mata mencari ridlo Alloh dan tidak melanggar larangan – larangan Alloh sebagaimana sanggahan di atas. 
  • Tapi siapa yang bisa menjamin bahwa niat kita itu benar – benar ikhlas? Siapa yang bisa menjamin bahwa segala amal shalih kita itu pasti diterima oleh Alloh SWT? Mari kita lihat satu – persatu!
1)  Ya… memang benar…sekolah atau kuliah itu bisa menjadi ibadah, kalau niatnya ikhlash beribadah, tapi rata – rata kita sekolah atau kuliah itu niatnya untuk mencari ijazah, agar kelak mudah mencari pekerjaan atau nafkah.
2) Ya… memang benar bekerja mencari nafkah sampai lembur – lembur itu juga bisa bernilai ibadah, kalau niatnya benar – benar ikhlash untuk ibadah. Namun seringkali kita bekerja hanya untuk mencari harta benda dunia dan berharap dipuji atau supaya tidak dihina orang.
3) Ya… memang benar melakukan hubungan intim dengan suami/ isteri yang syah itu juga bisa bernilai ibadah, kalau niatnya benar – benar ikhlash untuk ibadah. Namun seringkali kita melakukan hubungan intim dengan suami/ isteri yang syah itu hanya untuk mencari kesenangan, melepas hawa nafsu semata – mata hingga kadang berdoa sebelumnya saja lupa/ tidak ingat.
4)  Demikian halnya dengan kegiatan – kegiatan dunia lainnya memang bisa bernilai ibadah, mana kala diniatkan untuk ibadah. Tapi sayang kebanyakan niat kita tidak untuk ibadah, namun hanya untuk mengejar urusan dunia saja.
5)  Ooooh mungkin saat kita sholat 5 waktu, puasa, zakat dan hajji yang akan memperoleh pahala yang besar. Nah karena di antara ibadah – ibsdah itu nampaknya sholatlah yang rutin setiap hari kita lakukan, maka dalam tulisan ini hanya akan kita hitung berapa lama waktu kita sholat dalam sehari dan selama 50 tahun  Di smping itu juga didasari beberapa alasan dari Hadits Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa: “Sholat 5 waktu itu: (a) besar pahalanya, (b) bisa menghapus dosa, (c) kunci pembuka syurga, (d) amal yang pertama dihisab, yang jika shalatnya baik maka segala amalnya dianggap baik…dst…
Pertanyaannya:
(a) Cukupkah kita merasa cukup beribadah hanya dengan sholat saja?,
(b) Berapa lama waktu yang kita gunakan untuk shalat dalam 50 tahun?
Mari kita hitung:
  • Jika kita asumsikan untuk sekali holat yang sedang – sedang saja termasuk untuk berdzikir dan berdo’a= ± 10 menit (Tentu saja jika shalatnya dengan cara kilat = 5 menit, belum lagi kalau kilat khusus = 3 menit, tentu lebih sedikit lagi). 
  • Berarti sehari semalam lama waktu shalat = 5 x 10 =  50 menit atau kita bulatkan = ± 1 jam. 
  • Berarti dalam waktu 50 tahun, waktu yang terpakai sholat =18.250  x I = 18.250 jam    = 18.250  : 8.760 = 2,05 tahun atau dibulatkan = 2 tahun.
  • Ini berarti bahwa waktu yang kita manfaatkan dalam 50 tahun di dunia, cuma 2 tahun untuk sholat, itupun belum ada jaminan bahwa sholat kita bermakna dan pasti diterima. 
  • Dan sekiranya sholat kita selama 2 tahun itu diterima, rasanya juga belum/ tidak sebanding dengan perbuatan dosa - dosa kita yang kita lakukan selama 50 tahun. Baik dosa kita yang tertuju langsung kepada Alloh SWT maupun dosa – dosa kita terhadap sesama.

C. PENUTUP

1. Kesimpulan.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa:
  • Analisis atau perhitungan secara matematis terhadap lama waktu kita hidup di dunia dan lama waktu kita melakukan berbagai aktivitas hidup keseharian kita termasuk aktivitas ibadah kita kepada Alloh SWT, tidak bisa seluruhnya tepat.
  • Meskipun demikian analisis atau perhitungan secara matematis tersebut, setidaknya dapat memberikan gambaran dan kesadaran kepada kita bahwa: “Terlalu banyak waktu yang terbuang percuma selama manusia hidup di dunia dan semuanya itu akan menjadi bencana”

2. Himbauan dan Saran
  • Selanjutnya saya menghimbau marilah segera kita menyadari akan pentingnya kita memanfaatkan waktu hidup kita di dunia yang cuma sebentar ini. Tiada kata terlambat, atau lebih baik terlambat dari pada tidak pernah menyadari sama sekali.
  • Walaupun waktu bergulir cepat, marilah kita isi waktu kita yang tersisa dengan sesuatu apa saja yang bermanfaat, bagi diri kita, keluarga, masyarakat, nusa, bangsa dan agama. 
  • Dan jangan lupa, niatkan semua kegiatan atau aktivitas kita itu dengan niatan ibadah, ikhlash karena ingin mencari ridlo Alloh semata - mata!

Terima kasih yang tulus saya ucapkan kepada orang yang telah menyampaikan tulisan atau nasehat ini kepada saya. Saya hanya menulis kembali dalam kemasan yang agak berbeda. Semoga menjadi amal jariah baginya. Yang jelas satu hari = satu hikmah. Semoga hidup kita berlimpah nikmat dan berkah. Amien. (Dalyana Wong Jogja, Samarinda, Sabtu, 31 Desember 2012, Jam: 21.46 wita)

Jumat, 18 Mei 2012

TANYA JAWAB TENTANG "PENGERTIAN, TUGAS, FUNGSI DAN PERSYARATAN WIDYAISWARA"

A. PENDAHULUAN
Sebelum tanggal 1 Januari 2012, ketika orang bertanya kepada saya tentang profesi saya dan saya jawab "Saya adalah Guru Matematika di SMPN 15 dan SMKN 14 Samarinda", orang yang bertanyapun langsung maklum/ paham tentang profesi seorang guru. Bahkan sampai sekarangpun orang masih sering memanggil saya dengan sebutan Pak Guru. Hal itu kiranya dapat dimaklumi mengingat profesi Guru sudah tidak asing bagi seluruh lapisan masyarakat kita, ditambah lagi cukup lama juga saya menyandang profesi guru tersebut, yakni sejak 1/12/1984 s.d 31/12/2011 (kurang lebih 27 tahun).

Namun terhitung sejak tanggal 1/12/2012, saya telah beralih profesi menjadi seorang Widyaiswara di Lembaga Penjaminan Mutu (LPMP) Provinsi Kalimantan Timur. Nah sejak saat itu, ketika banyak orang bertanya dan saya beritahu bahwa profisi saya sekarang adalah Widyaiswara (WI) di LPMP Kaltim, mereka masih banyak yang belum paham dan akan menyambung dengan pertanyaan - pertanyaan berikut ini: Apa itu WI?, Apa tugasnya? Mengapa bpk pindah jadi WI? dan seterusnya.

Nah agar masyarakat dapat lebih mengenal tentang apa itu WI?. Apa tugas, fungsi dan wewenang WI? dan Apa syarat untuk menjadi seorang WI itu?, maka saya tulis Tanya Jawab ini dengan harapan akan ada manfaatnya bagi yang memerlukan informasi ini. Amien.    
                            
  =============Samarinda, 19 Mei 2012==============

B. ISI TANYA JAWAB

Tanya 1: Apa pengertian Widyaiswara (WI) itu?

Jawab: 

Dalam bahasa Inggrisnya WI itu adalah Trainer .atau pelatih.  Hal itu mengacu pada jenis-jenis diklat yang diperuntukkan bagi para widyaiswara,  ang sering disebut sebagai TOT atau Training Of Trainers yang artinya Pelatihan untuk Para Pelatih. Nah siapa yang dilatih, tiada lain adalah para Pegawai Negeri Sipil (PNS).


Hal itu juga sesuai dengan definisi yang sering dimuat dari berbagai peraturan yang dikeluarkan Lembaga Administrasi Negara (LAN) tentang Widyaiswara adalah Pegawai Negeri Sipil yang diangkat sebagai pejabat fungsional oleh pejabat yang berwenang dengan tugas, tanggung jawab, wewenang untuk mendidik, mengajar dan/atau melatih Pegawai Negeri Sipil pada Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pemerintah.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa ada empat tingkatan jabatan widyaiswara, yakni : 
  1. Widyaiswara Pertama (untuk PNS golongan III/a dan III/b); 
  2. Widyaiswara Muda (untuk PNS golongan III/c dan III/d); 
  3. Widyaiswara Madya (untuk PNS golongan IV/a, IV/b dan IV/c); 
  4. Widyaiswara Utama (untuk PNS golongan IV/d dan IV/e).
Kesimpulan:  Widyaiswara adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang diangkat sebagai pejabat fungsional oleh pejabat yang berwenang dengan tugas, tanggung jawab, wewenang untuk mendidik, mengajar dan/atau melatih Pegawai Negeri Sipil pada Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pemerintah.

Tanya 2: Apa tugas, tanggung jawab dan wewenang WI itu?

Jawab: Sesuai dengan pengertian Wi di atas, bahwa:  tugas, tanggung jawab, wewenang untuk mendidik, mengajar dan/atau melatih Pegawai Negeri Sipil pada Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pemerintah.

Tanya 3: Apa kesamaan dan perbedaan WI, Guru dan Dosen kalau begitu?

Jawab: Tentu saja ada kesamaannya, tetapi juga banyak perbedaannya. 
  • Kesamaannya antara lain:
  1. sama - sama pejabat fungsional dan profesional yang kenaikan pangkat dan jabatannya diperjitungkan dengan Angka Kredit 
  2. Sama - sama mendapatkan tunjangan fungsional, meski besarnya tidak sama
  3. sama - sama memiliki fungsi, tugas dan wewenang mengajar, mendidik dan melatih
  • Adapun perbedaannya antara lain:
  1. Yang di didik, dilatih dan dibina: a) oleh: Guru adalah siswa/ murid di sekolah )TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMA/MK), b) oleh Dosen adalah Mahasiswa di Perguruan Tinggi baik Negeri maupun Swasta, c) oleh WI adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pemerintah.
  2. Strategi, Metode dan Teknik yang digunakan dalam mengajar, mendidik dan melatih tentu juga berbeda.
  3. Dosen dan Guru telah mendapatkan Tunjangan Profesi, sedangkan WI belum, sehingga Tunjangan Profesi Guru yg besarnya = gaji pokok 1 bulan, yang telah saya terima sejak Juni 2007 s.d Desember 2011, maka sejak 1/1/2012 tunjangan itu disetop (tdk boleh saya terima lagi)
  4. Berbagai peraturan dan perundang - undangan yang mngatur ketiganya tentu juga berbeda. 
Tanya 4: Di lembaga atau instansi mana saja adanya WI itu?

Jawab: Hampir di semua Lembaga dan Kementerian di mana di situ ada PNS dan ada Lembaga Diklat, maka di situ ada WI. 


Tanya 5: Kalau di LPMP itu siapa saja yang dididik dan dilatih oleh WI?

Jawab: Karena LPMP berada di bawah Kemendiknas, maka yang dilatih di LPMP terutama adalah Guru, Kepsek, Pengawas dan Tenaga Kependidikan di Sekolah lainnya, seperti TU, Pustakawan dan lain - lain.

Tanya 6: Mana yang lebih mulia antara seorang Guru, Dosen dan WI itu dan kenapa Bpk pindah profesi dari guru menjadi WI?

Jawab: 
  1. Kalau dilihat tugas, fungsi dan wewenangnya adalah sama - sama mengajar, mendidik dan melatih, kiranya sama - sama mulia. Karena sama - sama mengajarkan ilmu, pengetahuan, keterampilan dan pengalaman yang insya Alloh akan dapat diambil manfaatnya oleh mereka yang diajari, dibina, dididik dan dilatih. Namun tentu saja itu semua sangat tergantung niatnya. Bahkan sebagaimana dikemukakan oleh Lutfi (dlm Blognya), bahwa: "Dalam acara sosialisasi kebijakan pembinaan widyaiswara yang diselenggarakan oleh BKD Provinsi Jawa Tengah, terungkap bahwa profesi widyaiswara merupakan profesi yang mulia dan menjadi ujung tombak pembinaan SDM aparat pemerintah. Lebih lanjut Ibu Emma narasumber dari Direktorat Pembinaan Widyaiswara LAN-RI mengungkapkan bahwa widyaiswara secara harfiah artinya adalah pembawa kebenaran (atau suara yang baik, dari kata widya=baik, dan iswara=suara), sehingga diharapkan para widyaiswara dapat menjadi suara kebenaran bagi para PNS…..mengajarkan nilai-nilai luhur yang harus dimiliki seorang PNS….agar menjadi PNS yang profesional, jujur, berakhalak mulia…… mau melayani masyarakat tanpa pamrih……Wah…jadinya profesi widyaiswara kayaknya mulia bangetkan….?!"
  2. Adapun kenapa saya pindah dari profesi guru ke WI, karena beberapa alasan sebagai beikut:
  • Profesi Guru dan WI sama - sama mulianya, bila diniatkan dengan ikhlash insya Alloh pada keduanya merupakan ladang untuk beramal sholih dalam rangka menularkan ilmu pengetahuan, pengalaman dan keterampilan yang bermanfaat.
  • Ingin mencari pengalaman dan tantangan baru yang berbeda dengan pengalaman dan tantangan yang telah saya geluti sebagai guru selama 27 tahun.
  • Menularkan pengetahuan dan pengalaman saya selama 27 tahun menjadi guru, kepada teman - teman guru lain, kepala sekolah dan pengawas di tingkat Provinsi Kalimantan Timur. 

Tanya 7: Bagaimana prosedur dan persyaratan untuk menjadi WI itu?

Jawab: Untuk menjadi WI tentu saja dan semestinya harus melalui seleksi yang sangat ketat dan persyaratan tertentu. Adapun syarat - syarat menjadi seorang WI antara lain sebagai berikut:

Persyaratan Umum

  • Pendidikan minimal Strata Satu
  • Pangkat PNS minimal Penata Muda, golongan ruang III/a
  • Pengalaman mengajar minimal 2 tahun
  • Usia maksimal 49 tahun
  • Ditugaskan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian Instansi (minimal oleh eselon II)
  • Berbadan sehat, jasmani dan rohani
Persyaratan Khusus
  • Apabila seorang peserta Diklat Calon Widyaiswara direkrut sebagai widyaiswara dari Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), maka yang bersangkutan harus memenuhi persyaratan sebagaimana tercantum dalam pasal 22 Peraturan MENPAN No PER/66/M. PAN/6/2005.
  • Apabila seorang calon Widyaiswara memiliki sertifikat program mengajar Akta V (dibuktikan dengan menyerahkan foto copy sertifikat dan menunjukkan dokumen asli), maka ybs tidak diwajibkan mengikuti seluruh program umum diklat calon Widyaiswara, namun tetap harus mengikuti beberapa mata diklat di bidang pembelajaran orang dewasa yang akan ditentukan oleh LAN. Selanjutnya ybs harus mengikuti program khusus yaitu mengikuti kegiatan muatan lokal dan evaluasi pemaparan di akhir Diklat Calon Widyaiswara.
  • Apabila seorang calon Widyaiswaratelah memiliki gelar magister dan/atau doktor di bidang pendidikan (dibuktikan dengan menyerahkan foto copy ijazah dan menunjukkan dokumen asli), maka yang bersangkutan tidak diwajibkan mengikuti seluruh program umum diklat calon Widyaiswara, namun tetap harus mengikuti beberapa mata diklat di bidang pembelajaran orang dewasa yang akan ditentukan oleh LAN. Selanjutnya yang bersangkutan harus mengikuti program khusus yaitu mengikuti kegiatan muatan lokal dan evaluasi pemaparan di akhir Diklat Calon Widyaiswara.
  • Bagi peserta yang akan mengikuti program khusus, di awal program umum Diklat Calon Widyaiswara diwajibkan menyerahkan persyaratan administrasi sebagai berikut:
    • Surat usulan dari Pejabat pembina kepegawaian di Instansi ke Kepala LAN
    • Calon Widyaiswara mengisi Lembar Isian Data Calon Widyaiswara, di sahkan oleh Pejabat pembina Kepegaewaian di instansi Cawid
    • SK Pengangkatan atau pemberhentian dalam jabatan terakhir
    • Melengkapi (a) Daftar Riwayat Hidup, (b) DP-3 terbaru, (c) foto copy ijazah/sertifikat/STTPP/Copy SK kegiatan ilmiah/Diklat fungsional/teknis
    • Rencana Kerja individu mendidik, mengajar, melatih (dikjartih) calon Widyaiswara - minimal 500 JP/tahun
    • program Diklat satu tahun berjalan di Unit Diklat sesuai rencana penempatan cawid (disahkan oleh instansi)
    • Surat Keterangan Pengalaman Mengajar, mendidik dan/atau melatih di Instansi Pemerintah (asli) 2 tahun terakhir
    • Karya Tulis Ilmiah yang pernah disusun/diterbitkan 1 rangkap
    • Menetapkan minimal 2 Spesialisasi Diklat (satu untuk paparan kompetensi, yang lainnya sebagai cadangan apabila harus mengulang)
    • Melengkapi 2 eksemplar (a) rencana Pembelajaran, (b) bahan Ajar/ Modul Diklat, dan (c) Copy transparansi (OHT)/slide untuk spesialisasi yang akan dipaparkan, dan 1 eksemplar untuk spesialisasi yang tidak dipaparkan
    • Melampirkan 2 foto terbaru (berwarna) ukuran 3X4 cm 
    • Melampirkan DUPAK calon Widyaiswara yang telah terisi dari instansi ke LAN, disertai bukti fisik
PENUTUP

Sementara saya sudahi tulisan Tanya Jawab ini, semoga teman - teman dan masyarakat menjadi maklum akan Profesi Widyaiswara yang saat ini saya geluti. Saya mohon do'a dan restu teman-teman dan masyarakat yang mengenal saya, semoga saya dapat melaksanakan tugas saya ini dengan sebaik - baiknya, amien.